Sabtu, 26 Januari 2013

Is It Real ?


Pagi ini seperti biasa aku awali dengan membaca Alhamdulillah karena Allah masih memberikan aku nafas agar selalu beribadah kepada-Nya. Ya nafas , kata yang begitu simple tapi itulah nikmat yang tiada tara harganya .

Aku melihat ke arah luar, tampak langit yang cerah , bunga yang beremekaran , burung-burung yang bersiul-siul dengan indah serta gemercik angin yang menggelitik kulit ini dengan halusnya. Ternyata itu semua tidak sesuai dengan keadaan hati seorang wanita . Embun pagi mengirimkan aku kisah wanita itu. Wanita yang aku kenal tapi tak begitu dekat aku mengenalnya .

Wanita itu sudah bersuami dan ia memiliki anak laki-laki yang masih kecil, umurnya sekitar 5 tahun. Anaknya begitu menggemaskan dan pintar . Kebetulan aku sering bermain dengan anaknya. Sekitar beberapa bulan yang lalu suaminya dinas ke pulau terbesar di Indonesia dan bapak mertuanya yang notabene adalah ayah dari suaminya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT. Wanita dan suaminya itu tinggal dirumah kedua orang tua suaminya . Semenjak kematian ayah mertuanya, wanita itu memutuskan untuk berhenti kerja sebab tak ada lagi yang mengurusi anaknya mekipun masih ada ibu mertuanya tetapi ibu mertuanya sibuk menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah swasta ternama di lingkungan rumahku.

Setelah beberapa hari wanita itu memutuskan untuk berhenti bekerja, ia berpikir bahwa perjalanan hidupnya masih panjang dan ia masih memiliki buah hati kecil yang pasti sangat membutuhkan uang yang banyak untuk kedepannya. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari pekerjaan lagi dan anaknya dititipkan kepada sebuah keluarga yang rumahnya tak jauh dari rumahnya . Keluarga ini memiliki dua anak yang sangat baik dan sangat senang dengan anak kecil . Ia merasa aman jika anaknya bersama keluarga ini dan anaknya pun sangat dekat dan lengket kepada keluarga ini. Pagi hari dia mengantarkan anaknya kerumah keluarga ini lalu sore harinya menjemputnya.

Wanita ini langsung melamar kerja , dan satu hari yang lalu ia di interview oleh petinggi di tempat ia melamar dan hasilnya dia diterima untuk menjadi salah satu pegawai di perusahaan itu. Ia sangat senang akan keberhasilan itu dan ia sangat ingin menceritakan hal itu kepada suaminya. Hari ini suami yang sangat ia tunggu akan kepulangnnya dan kehadirannya pulang kerumahnya. Tentunya ia sangat senang untuk menyambut suaminya itu. Setibanya suaminya dirumah bukanlah kebahagiaan yang ia dapatkan tapi sebuah kejutan yang sangat pahit. Suaminya membawa seorang wanita yang suaminya akui sebagai istrinya. Spontan wanita itu sangat shocked akan kejutan yang suaminya berikan. Suaminya memanggilkan taksi lalu menyuruhnya dan anaknya pergi untuk meninggalkan rumahnya . Dan ibu mertuanya pun hanya diam saja melihat perbuatan anaknya itu, katanya ia capek untuk mengurus cucunya itu.

Sekarang wanita itu telah pergi dari rumah mertuanya, dari rumah yang memiliki segudang cerita manis maupun pahit. Wanita itu tetap tegar menerima perlakuan seperti itu, ia diam tak menceritakannya kepada siapapun termasuk keluarga yang mana anaknya suka ia titipkan. Ibu mertuanya yang malah menceritakan kepada istri keluarga itu bahwa wanita itu beserta anaknya telah diusir dari rumahnya . Istri keluarga itu hanya diam karena ia tak ingin mencamupuri kehidupan keluarga adik iparnya itu.

Setelah mendengar cerita itu entah mengapa aku terpana akan kisah itu. Hatiku bertanya-tanya 
“Kok seperti sebuah sinetron di televisi ya?” 
“Masa sih ada cerita yang seperti itu?”
“Masa sih ada seorang ayah yang tega sama anak dan istrinya layaknya kisah itu?”


Aku jadi ingat akan sebuah pribahasa kalau laki-laki itu bisa runtuh karena harta, tahta, dan wanita. Dan pribahasa itu terbukti adanya ya. Dapatkah laki-laki itu melihat kebelakang saat ia bukan menjadi siapa-siapa hingga saat ini ia menjadi seseorang yang sudah terpandang. 
Bukankah laki-laki yang sukses dibelakangnya ada wanita yang hebat ? 
Mengapa ia tak ingat betapa setia istrinya mensupport baik tenaga, jiwa, dan cinta ia berikan seutuhnya tanpa mengharap balas apapun ?
Apakah ia tak melihat betapa lucu anaknya itu, betapa perlunya ia sekarang akan kasih sayang ayahnya?
Apakah ia tak kasihan jika suatu saat anaknya ditanya dimanakah ayahnya, dan ia tak tahu harus menjawab apa karena ayahnya meninggalkan ia dan ibunya?
Apakah ia tak ingat saat ia mengikrarkan janji sehidup semati dihadapan Allah, kedua orang tua istrinya dan kedua orang tuanya?
Apakah ia tak ingat saat-saat indah bersama istrinya dulu?
Apakah ia tak ingat saat ia menginginkan seorang anak lalu sekarang malah ia campakkan?


Hatiku sangat teriris mendengar kisah itu. Betapa kasihannya wanita itu, apalgi wanita itu ayahnya telah tiada dan ibunya sekarang sedang mengalami stroke. Sungguh tak berprasaan sekali laki-laki itu. Memang kami perempuan selalu lebih menggunakan hati kami dalam bertindak tapi bukannya dengan seperti itu kami dapat kalian angkat lalu jatuhkan seketika hingga berkeping-keping. Kami juga mempunyai logika tapi kami kesampingkan, kami kedepankan perasaan kami. Kami juga bisa menjadi tegar, kuat, dan melindungi diri kami. Tapi kami sadar ada yang lebih bisa melindungi kami, yaitu kamu laki-laki.

Sekali lagi aku di ingatkan akan surat Ar-Rahman Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Betapa beruntungnya aku dilahirkan dan dibesarkan sampai sebesar ini dengan keluarga yang harmonis, keluarga yang sangat mendukungku untuk melangkah dan menyusuri jalan hidupku, keluarga yang selalu ada saat aku terjatuh maupun bangkit . Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah.



“Ingatlah masa-masa indah saat kalian dulu saling mendekatkan diri masing-masing”
“Ingatlah saat kalian berkomitmen dan mengikrarkan suatu hubungan.”

Tidak ada komentar: