Pagi ini seperti biasa aku awali dengan membaca
Alhamdulillah karena Allah masih memberikan aku nafas agar selalu beribadah
kepada-Nya. Ya nafas , kata yang begitu simple tapi itulah nikmat yang tiada
tara harganya .
Aku melihat ke arah luar, tampak langit yang cerah , bunga
yang beremekaran , burung-burung yang bersiul-siul dengan indah serta gemercik
angin yang menggelitik kulit ini dengan halusnya. Ternyata itu semua tidak
sesuai dengan keadaan hati seorang wanita . Embun pagi mengirimkan aku kisah
wanita itu. Wanita yang aku kenal tapi tak begitu dekat aku mengenalnya .
Wanita itu sudah bersuami dan ia memiliki anak laki-laki
yang masih kecil, umurnya sekitar 5 tahun. Anaknya begitu menggemaskan dan
pintar . Kebetulan aku sering bermain dengan anaknya. Sekitar beberapa bulan
yang lalu suaminya dinas ke pulau terbesar di Indonesia dan bapak mertuanya
yang notabene adalah ayah dari suaminya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT.
Wanita dan suaminya itu tinggal dirumah kedua orang tua suaminya . Semenjak
kematian ayah mertuanya, wanita itu memutuskan untuk berhenti kerja sebab tak
ada lagi yang mengurusi anaknya mekipun masih ada ibu mertuanya tetapi ibu
mertuanya sibuk menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah swasta ternama di
lingkungan rumahku.
Setelah beberapa hari wanita itu memutuskan untuk berhenti
bekerja, ia berpikir bahwa perjalanan hidupnya masih panjang dan ia masih
memiliki buah hati kecil yang pasti sangat membutuhkan uang yang banyak untuk
kedepannya. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari pekerjaan lagi dan anaknya
dititipkan kepada sebuah keluarga yang rumahnya tak jauh dari rumahnya .
Keluarga ini memiliki dua anak yang sangat baik dan sangat senang dengan anak
kecil . Ia merasa aman jika anaknya bersama keluarga ini dan anaknya pun sangat
dekat dan lengket kepada keluarga ini. Pagi hari dia mengantarkan anaknya
kerumah keluarga ini lalu sore harinya menjemputnya.
Wanita ini langsung melamar kerja , dan satu hari yang lalu
ia di interview oleh petinggi di tempat ia melamar dan hasilnya dia diterima
untuk menjadi salah satu pegawai di perusahaan itu. Ia sangat senang akan
keberhasilan itu dan ia sangat ingin menceritakan hal itu kepada suaminya. Hari
ini suami yang sangat ia tunggu akan kepulangnnya dan kehadirannya pulang
kerumahnya. Tentunya ia sangat senang untuk menyambut suaminya itu. Setibanya
suaminya dirumah bukanlah kebahagiaan yang ia dapatkan tapi sebuah kejutan yang
sangat pahit. Suaminya membawa seorang wanita yang suaminya akui sebagai
istrinya. Spontan wanita itu sangat shocked akan kejutan yang suaminya berikan.
Suaminya memanggilkan taksi lalu menyuruhnya dan anaknya pergi untuk
meninggalkan rumahnya . Dan ibu mertuanya pun hanya diam saja melihat perbuatan
anaknya itu, katanya ia capek untuk mengurus cucunya itu.
Sekarang wanita itu telah pergi dari rumah mertuanya, dari
rumah yang memiliki segudang cerita manis maupun pahit. Wanita itu tetap tegar
menerima perlakuan seperti itu, ia diam tak menceritakannya kepada siapapun
termasuk keluarga yang mana anaknya suka ia titipkan. Ibu mertuanya yang malah
menceritakan kepada istri keluarga itu bahwa wanita itu beserta anaknya telah
diusir dari rumahnya . Istri keluarga itu hanya diam karena ia tak ingin
mencamupuri kehidupan keluarga adik iparnya itu.
Setelah mendengar cerita itu entah mengapa aku terpana akan
kisah itu. Hatiku bertanya-tanya
“Kok seperti sebuah sinetron di televisi ya?”
“Masa sih ada cerita yang seperti itu?”
“Masa sih ada seorang ayah yang tega
sama anak dan istrinya layaknya kisah itu?”
Aku jadi ingat akan sebuah pribahasa kalau laki-laki itu
bisa runtuh karena harta, tahta, dan wanita. Dan pribahasa itu terbukti adanya
ya. Dapatkah laki-laki itu melihat kebelakang saat ia bukan menjadi siapa-siapa
hingga saat ini ia menjadi seseorang yang sudah terpandang.
Bukankah laki-laki yang sukses dibelakangnya ada wanita yang hebat ?
Mengapa ia tak ingat betapa setia istrinya mensupport baik tenaga, jiwa, dan
cinta ia berikan seutuhnya tanpa mengharap balas apapun ?
Apakah ia tak melihat betapa lucu anaknya itu, betapa perlunya ia sekarang akan
kasih sayang ayahnya?
Apakah ia tak kasihan jika suatu saat anaknya ditanya dimanakah ayahnya, dan ia
tak tahu harus menjawab apa karena ayahnya meninggalkan ia dan ibunya?
Apakah ia tak ingat saat ia mengikrarkan janji sehidup semati dihadapan Allah,
kedua orang tua istrinya dan kedua orang tuanya?
Apakah ia tak ingat saat-saat indah bersama istrinya dulu?
Apakah ia tak ingat saat ia menginginkan seorang anak lalu sekarang malah ia
campakkan?
Hatiku sangat teriris mendengar kisah itu. Betapa kasihannya
wanita itu, apalgi wanita itu ayahnya telah tiada dan ibunya sekarang sedang
mengalami stroke. Sungguh tak berprasaan sekali laki-laki itu. Memang kami
perempuan selalu lebih menggunakan hati kami dalam bertindak tapi bukannya dengan
seperti itu kami dapat kalian angkat lalu jatuhkan seketika hingga
berkeping-keping. Kami juga mempunyai logika tapi kami kesampingkan, kami
kedepankan perasaan kami. Kami juga bisa menjadi tegar, kuat, dan melindungi
diri kami. Tapi kami sadar ada yang lebih bisa melindungi kami, yaitu kamu
laki-laki.
Sekali lagi aku di ingatkan akan surat Ar-Rahman “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Betapa beruntungnya aku dilahirkan dan dibesarkan sampai sebesar ini dengan
keluarga yang harmonis, keluarga yang sangat mendukungku untuk melangkah dan
menyusuri jalan hidupku, keluarga yang selalu ada saat aku terjatuh maupun
bangkit . Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah.
“Ingatlah masa-masa indah saat kalian dulu saling
mendekatkan diri masing-masing”
“Ingatlah saat kalian berkomitmen dan mengikrarkan suatu hubungan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar